Minggu, 05 Februari 2017

puisi pagi

Hasil gambar untuk pagi
pagi.

Pagi

Hai wahai pagi
Lahir selepas fajar tidur menjamu siang
Senandung irama dari riuhanmu
Membuat setiap insan menghela napas dalam-dalam
Dirimu mencumbu jiwa-jiwa Adam Smith
Tuk menyalang mat-mata yang bergelayunan
Yang rela tenggelam diambang kesukaran
Demi pundi-pndi
Tak kalah pesonamu dengan lembayng senja
Yang hati siapa tak kembali tersenyum
Selepas terdentum
Kembali terkelakar selepas gusar
Dan kembali terbakar membara
Setelah semangat pudar terdera
Karena ku tahu kesuksesan saat ini
Tergantung darimu wahai pagi
(Firman Muhammad Akhyar, 02:05:16)

Minggu, 22 Januari 2017

puisi perjuangan


Hasil gambar untuk teks proklamasi
proklamasi

Vaccum of Power
(Firman Muhammad Akhyar, 2016)
 
Ketika pribumi tercatat dipertuan tuan-tuan feodal netherlands
Tiga setengah abad pertiwi bertanahkan perdikan
Tak cukup itu
Petani pertiwi digoncang romusha
Bukan abad melainkan tahun
Kini hari itu telah hadir
Peluang! Pelung! Peluang!
Sorak gemuruh rakyat menggema langit jajahan
Setelah lama beta tak dipangkuan pertiwi
Vacum of Power!
Mendongkrak kebebasan
Dengar! Kalian yang mengeruk pribumi lalu pergi
Dengar! Kalian yang memegang cambuk-cambuk
Dengar! Kalian yang dini mengerti dijajah
Dengarkan Suara ini!
Suara dari wakil rakyat yang haus akan kebebasan
Takkan ada lagi tangan-tangan yang melutut suram
Berpangku-pangku ulur-mengulur
Hingga bermuaralah jerih payah menuju proklamasi
Soekarno


puisi anak bangsa




Hasil gambar untuk penat
penat

Penat
(Firman Muhammad Akhyar, 2016)

Gusar !!
Ingin berkelakar, tak tahu akar..
Ingin tahu besar, tak kuasa menalar..
Mau berapa kali Engkau biarkan..
Matahari dan rembulan berpapasan..
Tanpa menghadirkan kepastian..
Sudah jauh awan rendah berlayar..
Semakin jauh pula kepastian memudar..Baru ku obati satu..
Sudah dihujani batu..
Bebal!!
Hakikat berakal, nyatanya kesal yang menebal..
Ku menyangkal, namun yang ku rasa hanya membual..
Miris hati ini menangis..
Terkikis oleh gerimis..
Aku tak Anggap Engkau sadis..
Namun sunguh tragis bila ku anggap Engkau apatis..
Tak asing Engkau lihat diriku masai..
Maka linungi daku wahai pemilik perisai
Biar sudah tak tahu menahu..
Biarlah hamba berlabuh di bahu..